Rabu, 10 November 2010

PENGARUH INTENSITAS PERSAINGAN PASAR DAN TEKNOLOGI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL: INFORMASI SAM SEBAGAI VARIABEL INTERVENING

PENGARUH INTENSITAS PERSAINGAN PASAR DAN TEKNOLOGI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL: INFORMASI SAM SEBAGAI VARIABEL INTERVENING
Oleh

Khanifa
Universitas Wahid Hasyim

Osmad Muthaher
Universitas Islam Sultan Agung

Abstract



The main objectiveof this study is to eamine increasing in the market competition about the aplication of manufacturing technologuy, deregulation of economies and privatization of government ownwd enterprisesmakes decision makers to be management accounting system information more important. There have been calls for research into the use of management accounting systems information under the changing circumstances.
The research reports the results of astudy which offers an explanation for the relationship between intensity of market competition and managers performance by incorporating into the model the use of management accounting system information by mangers as intervening variable. The asses the relationship, data were collected from71 manager product of manufacturing with responses is 75,5%.
The results of this reseach indicate that intensity of market competition is a determinant of the use of the information MAS which, in turn, is a determinanat plays a mediating role in the relationship between the intensity of market competition and manager performance.



PENDAHULUAN
Persaingan pasar telah menciptakan pergolakan, tekanan, resiko dan ketidakpastian organisasi. Puncak tuntutan organisasi yaitu menjawab segala ancaman dan kesempatan dalam lingkungan bersaing, dan mereka mendesain serta menggunakan sistem pengendalian yang tepat untuk mencapai tujuan. Ada sejumlah bukti empiris pada industri manufaktur yang mendukung hubungan positif antara peran manajer terhadap penggunaan sistem akuntansi manajemen maupun kinerja (Biema dan Greenwald, 1997; Mia dan Clarke; 1999). Manager yang menggunakan informasi telah mempersiapkan sistem akuntansi manajemen untuk dapat membantu organisasi memakai dan mengimplementasikan rencana dalam menanggapi lingkungan bersaingnya. SAM dalam suatu organisasi merupakan pandangan tradisional yang mempunyai ruang lingkup yang sempit, dimana sistem yang diharapkan hanya memberikan informasi keuangan secara umum, seperti masalah internal organisasi, dan ex post atau historical (Chenhall & Morris, 1986, Gordon dan Narrayan, 1984, Mia, 1993). Pandangan terhadap SAM merupakan suatu sistem yang menyediakan benchmarking dalam memantau informasi tambahan pada internal perusahaan dan informasi historis tradisionil yang menghasilkan sistem akuntansi manajemen.
Teknologi informasi memberikan peluang bagi perusahaan global untuk meningkatkan koordinasi dan pengendalian, atau dapat pula dimanfaatkan untuk mendapatkan keunggulan daya saing di pasar dunia (Johnston dan Carrico, 1998; Clemons dan Kimbrough, 1991; Mahmod dan Mann, 1993; Kettinger et al.,1994; Mata et al., 1995; Ross et al., 1995).
Sejumlah penelitian mendukung hubungan antara investasi TI perusahaan dengan kinerja. Pengunaan TI akan membawa perusahaan pada kondisi yang menguntungkan yaitu kemudahan memasuki pasar, diferensiasi produk, dan cost effciency (Kettinger et al, 1994). Dengan kemudahan tersebut maka perusahaan akan mampu meningkatkan kinerjanya. Jadi pengunaan TI secara strategik akan mampu membawa perusahaan meningkatkan profitabilitas yang merupakan salah satu indikator performance.
Penelitian ini terkonsentrasi pada penggunaan manager terhadap benchmarking dan monitor sistem informasi yang tersedia. Keterlibatan benchmarking dalam membandingkan suatu perusahaan dengan pesaing merupakan faktor yang relevan, termasuk didalamnya costs dan structure costs, produktivitas, kualitas, harga, customer service, dan profitability. Bromwich (1990) menyarankan bahwa seorang manager yang menggunakan benchmarking dalam memantau informasi dengan SAM dapat membantu organisasi dalam menghadapi tantangan yang dihasilkan dari persaingan pasar dan membantu usaha yang bernilai tambah menjadi relatif bagi competitors. Walaupun para peneliti mengatakan bahwa penggunaan SAM banyak dalam lingkungan kompetitif (Kaplan, 1983; Shank dan Govindarajan, 1989; Bromwich, 1990), riset empiris mengenai hal tersebut telah berkurang (Foster dan Gupta, 1994). Fakta-fakta yang bersifat anekdot menyarankan bahwa dengan adanya intensitas persaingan pasar, banyak organisasi yang bekerja dengan lebih baik (Mia dan Clarke, 1999). Lebih lanjut Khandwalla (1972) melaporkan adanya hubungan negatif diantara harga, produk dan pemasaran (distribusi), jaringan kompetisi dan kinerja organisasi. Rolfe (1992) menambahkan bahwa kompetisi di pasar benar-benar menciptakan ancaman dan tantangan.
Dalam rangka memperoleh dan mempertahankan keunggulan kompetitif, organisasi perlu untuk beradaptasi dengan cepat pada lingkungan pasarnya (DeGeus, 1988; Senge, 1990; Day, 1991). Maka dengan itu, jika suatu perusahaan menghadapi peningkatan kompetisi pada pasarnya, namun gagal mengadopsi dan mengimplementasikan strategi yang tepat untuk menghadapi persaingan tersebut, maka kinerjanya cenderung memburuk. Barangkali ini merupakan alasan kenapa Khandwalla (1972) melaporkan adanya hubungan negatif antara profitabilitas perusahaan dan tingkat harga produk, serta jaringan persaingan pasar. Hal ini mewakili suatu penyimpangan (anomaly) antara bukti empiris terhadap isu dan realita, dan kami menyarankan bahwa manager yang menggunakan informasi SAM menawarkan suatu penjelasan tentang adanya penyimpangan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas persaingan pasar dan teknologi informasi dengan kinerja manajer melalui pengunaan informasi sistem akuntansi manajemen (SAM)
TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
1. Landasan Teori
Hubungan Persaingan Pasar dan Penggunaan Informasi SAM oleh Manager
Semakin meningkatnya persaingan pasar, perusahaan-perusahaan juga meningkatkan jarak produk dan mengurangi siklus hidup produk, memperkenalkan saluran distribusi baru yang mempengaruhi rantai suplai konsumen, menghadapi sensitivitas pasar, dan menargetkan produk serta jasa kepada segmen-segmen pelanggan kecil (Rolfe, 1992). Perubahan ini menciptakan ancaman kompetitif dan tantangan. Sesuai dengan ancaman dan tantangan ini, perusahaan harus mengadopsi strategi seperti diffrensiasi produk, jasa dan harga (Lynn, 1994).
Anthony dan Govindarajan (1998) menjelaskan bahwa sistem strategi adalah cara yang dipilih oleh manajemen puncak untuk mewujudkan visi organisasi melalui misi. Dalam melakukan strategi diffrensiasi produk, suatu perusahaan berusaha untuk mengatasi tekanan persaingan tersebut dengan menawarkan kepada konsumen suatu paket atribut produk yang memberikan nilai lebih dari pada yang ditawarkan pesaing. Formulasi dan implementasi strategi differensiasi produk membutuhkan perkiraan yang akurat dari biaya atribut produk tersebut, dan memonitor biaya tersebut dari waktu-kewaktu. Penekanan utama pada pendekatan ini adalah bahwa suatu organisasi perlu untuk melihat lingkungan eksternal (pasar) dan posisinya sendiri. Untuk tujuan ini, perusahaan juga perlu untuk mengidentifikasi dan memonitor strategi masing-masing kompetitor (sekarang dan potensial) sehingga dapat menentukan kombinasi yang tepat dari atribut produk dan struktur biaya yang akan memberikan keunggulan kompetitif. Ward (1993) berkata: ‘….menurut defenisi, keunggulan competitive adalah suatu konsep relatif, yang hanya dapat ditaksir dengan membandingkannya terhadap lingkungan eksternal. Sehingga sistem akuntansi manajemen harus menambah focus eksternal (termasuk pesaing, suplier, dan persepsi konsumen atas nilai) kedalam penekanan tradisional seperti analisis akuntansi, perencanaan dan siklus pengendalian. (p.36) Informasi benchmarking dan monitoring yang diberikan oleh SAM dapat memerankan peran yang signifikan dalam hal ini. Ketetapan informasi benchmarking dan monitoring merupakan salah satu langkah bahwa SAM dapat membantu organisasi dalam melakukan differensiasi produk dan strategi harga. Penggunaan informasi oleh manajer memungkinkan mereka untuk mengetahui apakah organisasi, dibandingkan dengan pesaingnya, menawarkan paket kompetitif dari atribut produk kepada konsumen pada harga yang kompetitif, sehingga mendorong organisasi dalam membantu persaingan pasarnya secara efektif. Bromwich (1990) berpendapat: “…. Akuntan mungkin memerankan peran penting dalam keputusan strategis, khususnya dalam keputusan diversifikasi melalui pembiayaan atribut dan memonitor kinerja atribut tersebut dari waktu ke waktu. Perspektif tersebut memberikan peran yang jelas untuk akuntansi manajemen strategis karena ….biaya dari atribut yang disediakan oleh produk-produk perusahan seringkali krusial terhadap kesesuaian strategi produk perusahaan dalam memasuki competitors. Dalam menghadapi strategi seperti ini merupakan hal yang tidak menguntungkan”. Porter (1985) membantah bahwa suatu organisasi untuk dapat survive dan success dalam suatu persaingan pasar, harus meneliti dan memonitor lingkungannya berkenaan dengan ancaman dari pesaing yang potensial, mengancam dengan menggantikan produk dan jasa, dasar dan intensitas persaingan di dalam industri, dan kekuatan penawaran terhadap para penyalur dan pelanggan. Untuk dapat sukses berhadapan dengan masing-masing ancaman di atas, suatu organisasi harus menggunakan informasi sistem akuntansi manajemen untuk meneliti lingkungannya, dan mengidentifikasi perubahan di dalam industri serta tindakan-tindakan yang dilakukan bukan pesaing. Sebagai contoh, besarnya ancaman yang dihadapi industri hotel atas produk pengganti, jasa dan harga mereka tergantung besarnya luas atribut dan ongkos, seperti produk dan jasa. Oleh karena itu, Informasi sistem akuntansi manajemen yang relevan dapat membantu seorang manajer dalam menambah atribut produk, harga, dan biaya-biaya produk pengganti di pasar. Lebih lanjut, informasi dapat membantu perusahaan di dalam mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan nilai pelanggan, oleh karena itu, perlu mempertahankan keberadaan pelanggan dan meningkatkan penguasaan pasar. Banyak organisasi menyatakan sasaran-sasaran pokok mereka berkaitan dengan penjualan atau penguasaan pasar, hal ini merupakan dasar yang baik untuk profitabilitas jangka panjang (Pogue, 1990). Setelah mengikuti keseluruhan pendapat diatas, penulis mengatakan bahwa dengan adanya persaingan pasar, manager mengambil manfaat yang besar dari penggunaan informasi SAM yang tersedia.
Hubungan Teknologi Inforamsi dan Kinerja Manajer
TI akan membawa perusahaan pada kondisi yang menguntungkan yaitu kemudahan memasuki pasar, diferensiasi produk, dan cost efficiency (Kettinger et al, 1994). Dengan kemudahan tersebut maka perusahaan akan mampu meningkatkan kinerjanya. Jadi pengunaan TI secara strategik akan mampu membawa perusahaan meningkatkan profitabilitas yang merupakan salah satu indikator performance. Clemons et al. (1993) menyatakan bahwa teknologi informasi mempunyai kemampuan untuk memperendah biaya koordinasi antar perusahaan dengan agen-agen di luar perusahaan tanpa mempertinggi resiko transaksi yang bersangkutan. Teknologi informasi dapat memperbaiki monitoring serta pengurangan spesifikasi hubungan yang ada dalam koordinasi eksplisit, sehingga perusahaan akan melakukan investasi dalam teknologi informasi untuk melakukan koordinasi antar perusahaan tanpa dikuatirkan oleh adanya resiko transaksi yang tinggi.
Mahmood dan Mann (1993) menyatakan bahwa investasi yang mantap dalam teknologi informasi harus dipertimbangkan untuk meningkatkan performance ekonomi dan strategi organisasi. Dengan investasi dalam TI yang tepat maka perusahaan akan memiliki suatu keunggulan kompetitif sehingga akan mampu bersaing dalam perusahaan dan keberhasilan dalam persaingan akan dapat meningkatkan kinerja perusahaan dalam bentuk output perusahaan, efisiensi, efektivitivitas, kekuatan dan kelehan perusahaan, dan nilai perusahaan yang ditunjukkan dengan nilai saham perusahaan.
Mahmood dan Mann (1993) melakukan penelitian tentang hubungan antara investasi dalam teknologi informasi dengan strategik organisasional dan kinerja ekonomi. Penelitian yang dilakukan terhadap 100 perusahaan tersebut memperoleh hasil yaitu adanya hubungan antara investasi dalam teknologi informasi dengan strategik organisasional dan kinerja ekonomi perusahaan. Sircar et al. (2000) melakukan penelitian dengan mengembangkan framework yang dikembangkan oleh Mahmood dan Mann (1993). Pengembangan tersebut dilakukan karena menurut Sircar et al. (2000) penelitian dan framework yang dibangun Mahmood dan Mann (1993) memiliki sejumlah keterbatasan. Atas keterbatasan yang muncul tersebut Sircar et al (2000) membuat framework baru untuk mengukur kinerja yaitu tidak lagi menekankan kinerja dalam arti produktivatas, namun kinerja perusahaan yang sebenarnya meliputi penjualan, asset, dan market value. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya diperoleh hasil hubungan yang signifikan antara investasi dalam TI dan kinerja perusahaan.
Hubungan antar Proses dan Dinamika Bersaing (Competitive Dynamics)
TI dapat digunakan untuk mengubah keunggulan bersaing dari suatu industri (McFarlan, 1991; Bakos & Treacy, 1986), meningkatkan barrier to entry terhadap pesaing prospektif (McFarlan, 1991). Pemindahan biaya-biaya perolehan dapat berimplikasi dramatis untuk kompetisi antar peserta industri (Bakos & Brynjolfsson, 1993). Dinamika bersaing dapat dipengaruhi oleh strategi pemasaran sukses, sedang daya saing dapat ditingkatkan dengan memperbaiki pilihan produk dan biaya (Porter & Millar, 1991). Dinamika bersaing dapat berdampak signifikan dari hubungan pelanggan, sebagai contoh pelanggan bereaksi dengan baik kepada biaya yang lebih rendah, meningkatnya pemilihan produk atau meningkatnya respon pelanggan (Porter & Millar, 1991). Lebih lanjut Tallon et al (1999) mengatakan bahwa semakin besar dampak TI terhadap proses bisnis individual, dan hubungan antar proses bisnis, maka semakin besar kontribusi TI terhadap kinerja organisasi. Kemudian hasil penelitian Tallon et al (1999) menemukan bahwa hubungan antar-proses bisnis menunjukkan hubungan yang positif dengan dinamika bersaing, kecuali hubungan antara supplier relations dengan production & operations dan hubungan antara sales & marketing support dengan customer relations berkontribusi negatif. Berdasarkan uraian tersebut maka dimunculkan hipotesis sebagai berikut :
H3a : Proses bisnis supplier relations berpengaruh positif terhadap proses bisnis
production & operations.
2. KERANGKA PENELITIAN
Sesuai dengan telaah teoritis yang telah diuraikan di muka tentang pengaruh Intensitas persaingan pasar dan Teknologi informasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja unit perusahaan : sistem akuntansi manajemen sebagai variabel intervening, maka model penelitian yang dipakai dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut.



Gambar 2.1
Kerangka Penelitian


H2


H1 H H5
H3


H2 H4

3. HIPOTESIS
Berdasarkan teori yang teleh dikemukakan sebelumnya maka dapat dapat dirumuskan hipotesisnya sebagai berikut:
H1: Terdapat hubungan tidak langsung antara intensitas persaingan dengan kinerja melalui penggunaan informasi karateristik SAM.
H2: Terdapat hubungan tidak langsung antara teknologi informasi dengan kinerja melalui penggunaan informasi karateristik SAM.

METODE PENELITIAN
1. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua manajer level menengah keatas pada perusahaan manufaktur di Jawa Tengah, yang mana menurut data dari BPS (2003) terdapat 135 perusahaan manufaktur yang bergerak diberbagai sektor usaha produktif (BPS, 2003).Penelitian ini mengambil sampel para manajer dibagian operasional dan pemasaran karena didasarkan pada variabel yang titeliti yaitu ketidakpastian lingkungan dan struktur organisasi. Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan teknik random sampling atau pengambilan secara acak.
2. Definisi Operasional Variabel
a. Teknologi Informasi
Teknologi informasi dicerminkan dalam formalisasi perencanaan, pengendalian, organisasi, dan integrasi aktivitas-aktivitas teknologi informasi. Penelitian ini menggunakan instrumen kematangan teknologi informasi yang digunakan oleh Karimi et al (1996). Untuk mengukur kematangan teknologi informasi digunakan empat kriteria yaitu bentuk perencanaannya, pengendaliannya, organisasinya, dan integrasinya, kesemuanya ada 12 item. Untuk menilai keempat indikator teknologi informasi diukur dengan menggunakan 20 item pertanyaan dengkan menggunakan skala likert 1-7. Responden diminta untuk menjawab 7 pertanyaan dengan memilih satu nilai dalam skala 1 (informasi tidak penting) sampai skala 7 (informasi sangat penting).
b. Sistem Akuntansi Manajemen
Sistem Akuntansi Manajemen sebagai variabel independen yang mempunyai karakteristik yaitu broad Sciope, timeliness, agregation dan integration.
a. Informasi broad Scope Sistem Akuntansi Manajemen
Informasi broad scope dapat dikatan sebagai informasi dengan cakupan luas yang meliputi faktor-faktor eksternal maupun internal perusahaan, informsai non ekonomi, ekonomi, estimasi kejadian yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang, informasi yang berhubungan dengan aspek-aspek lingkungan (chenhall dan Morris, 1998). Semakin tinggi skala berarti informasi yang ada memiliki cakupan luas.
b. Informasi timeliness Sistem Akuntansi Manajemen
Informasi timeliness adalah informasi yang mengungkapkan ketepatan waktu menunjukkan tentang waktu antara permohonan informasi dengan penyajian informasi yang dinginkan serta frekuensi pelaporan informasi dan kecepatan membuat laporan (Nazaruddin, 1998 dan Ritonga & Zainuddin, 2002).
c. Informasi agregation Sistem Akuntansi Manajemen
Informasi agregation adalah inforamsi yang memperhatikan penerapan bentuk kebijakan foramal atau model analitika informasi hasil akhir yang didasarkan pada areal fungsional atau didasarkan pada waktu (Nazaruddin, 1998). Sehingga semakin tinggi atau penting informasi yang dihasilkan semakin teragregasi.
d. Informasi integration Sistem Akuntansi Manajemen
Informasi Integration mencermnkan aspek seperti ketentuan terget atau aktivitas yang dihitung antar proses interaksi antar sub unit dalam organisasi. Kompleksitas dan saling keterkaitan ataupun ketergantungan sub unit satu dengan yang lainnya akan terceermin dalam informasi integration (Nazaruddin, 1998). Artinya semakin tinggi informasi yang ada maka semakin terintegrasi.
c. Intensitas persaingan
Intesnitas persaingan adalah suatu tingkat persaingan usaha yang diukur melalui pesaing utama dalam industri yang sama. Variabel Intensitas persaingan menggunakan instrument yang digunakan oleh Mia dan Clark (1999) yaitu jumlah pesaing utama, frekuensi tingkat perubahan teknologi dalam industri yang sama, frekuensi pengenalan produk baru, seberapa luas akses terhadap saluran distribusi, dengan menggunakan skala Likert tujuh point, angka 1 merepresentasikan kondisi persaingan yang sangat rendah dan angka 7 kondisi persaingan yang sangat tinggi
d. Kinerja manajerial
Dalam peneltian ini variabel dependennya adalah Kinerja Manajerial.. Kinerja manajerial adalah kinerja individual anggota organisasi dalamkegiatan manajerial. Kinerja manajerial diukur dengan instrumen self rating yang dikembangkan oleh Mahoney, Jardey dan Caroll (1963) dengan menggunakan skala likkert 1 sampai 7. Instrumen ini terdiri dari 8 dimensi kinerja personal ( perencanaan, investigasi, koordinasi, evaluasi, pengawasan, staff, negosiasi, perwakilan) dan 1 dimensi kinerja secara keseluruhan..
Variabel dependen adalah variabel yang keberadaannya dipengaruhi oleh keberadaan variabel lain (Sugiyono, 2001). Dalam peneltian ini variabel dependennya adalah Kinerja Manajerial.. Kinerja manajerial adalah kinerja individual anggota organisasi dalamkegiatan manajerial. Kinerja manajerial diukur dengan instrumen self rating yang dikembangkan oleh Mahoney, Jardey dan Caroll (1963) dengan menggunakan skala likkert 1 sampai 7. Instrumen ini terdiri dari 8 dimensi kinerja personal ( perencanaan, investigasi, koordinasi, evaluasi, pengawasan, staff, negosiasi, perwakilan) dan 1 dimensi kinerja secara keseluruhan.
4. Analisis Data
Dalam penelitian ini analisis data menggunakan pendekatan Partial Least Square (PLS). PLS adalah model persamaan struktural (SEM) yang berbasis komponen atau varian (variance). Menurut Ghozali (2006) PLS merupakan pendekatan alternatif yang bergeser dari pendekatan SEM berbasis covariance menjadi berbasis varian. SEM yang berbasis kovarian umumnya menguji kausalitas/teori sedangkan PLS lebih bersifat predictive model. PLS merupakan metode analisis yang powerfull (Wold,1985 dalam Ghozali,2006) karena tidak didasarkan pada banyak asumsi. Misalnya, data harus terdistribusi normal, sampel tidak harus besar. Selain dapat digunakan untuk mengkonfirmasi teori, PLS juga dapat digunakan untuk menjelaskan ada tidaknya hubungan antar variabel laten. PLS dapat sekaligus menganalisis konstruk yang dibentuk dengan indikator refleksif dan formatif. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh SEM yang berbasis kovarian karena akan menjadi unidentified model. Dalam analisis dengan PLS ada 2 hal yang dilakukan. Pertama, menilai outer model atau measurement model adalah penilaian terhadap reliabilitas dan validitas variabel penelitian. Ada tiga kriteria untuk menilai outer model yaitu: convergent validity, discriminant validity dan composite reliability. Kedua, menilai inner model atau structural model. Pengujian inner model atau model struktural dilakukan untuk melihat hubungan antara konstruk, nilai signifikansi dan R-square dari model
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Analisis Statistik Deskriptif
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui nilai mean, nilai minimum, nilai maximum, dan standar deviasi dari tanggapan responden terhadap masing-masing variabel yang digunakan untuk penelitian. Berikut ini akan dijelaskan statistik deskriptif untuk masing-masing variabel penelitian.
Sistem Akuntansi Manajemen
1. Broad Scope
Informasi broad scope memberikan informasi tentang faktor-faktor eksternal maupun internal perusahaan. Informasi broad scope juga mencakup informasi non ekonomi, estimasi kejadian yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang, serta aspek-aspek lingkungan. Untuk pengukuran variabel ini digunakan enam indikator pertanyaan, dan berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif diperoleh hasil sebagai berikut:
Berdasarkan tabel 1 dijelaskan bahwa untuk item pertanyaan pertama yaitu ketersediaan informasi di masa yang akan datang memiliki nilai standar deviasi 1.252 dan dengan nilai mean 4.21 atau rata-rata terdapat informasi yang berkaitan
dengan kejadian di masa depan. Untuk pertanyaan kedua yaitu tersedianya informasi yang mampu memperkirakan tentang kemungkinan munculnya peristiwa di masa depan memiliki nilai standar deviasi 1.372, dan dengan nilai mean sebesar 3.87 yang berarti masing-masing perusahaan kurang memiliki informasi tentang kemungkinan peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Untuk item pertanyaan yang ketiga yaitu informasi yang bersifat non ekonomi seperti kepuasan konsumen, karyawan, sikap pemerintah, kompetitor dan lain sebagainya memiliki nilai tanggapan antara 1 dan 6, dengan nilai standar deviasi 1.229, dan dengan nilai mean sebesar 4.12 yang berarti rata-rata dari masing-masing perusahaan memiliki informasi yang berkaitan dengan kepuasan konsumen, karyawan, sikap pemerintah, kompetitor sejenis dan lain sebagainya. Untuk petanyaan keempat yaitu informasi tentang faktor eksternal seperti kondisi ekonomi, perkembangan penduduk, perkembangan teknologi dan lainnya memiliki nilai tanggapan antara 2 dan 6, dengan nilai standar deviasi sebesar 1.05, dan nilai mean sebesar 4.16 yang berarti rata-rata perusahaan memiliki informasi yang berkaitan dengan non ekonomi seperti kondisi ekonomi, pertumbuhan penduduk, pertumbuhan teknologi dan lainnya.Untuk pertanyaan kelima yaitu mengenai tersedianya informasi mengenai non keuangan yang berkaitan dengan
Tabel 1
Tanggapan Responden Terhadap Variabel Informasi SAM

Construct Indicator Mean Stdev Loading Residual Weight
SAM
BS1 4.211268 1.252603 0.8538 0.271 0.1487
BS2 3.873239 1.37248 0.8083 0.3467 0.1577
BS3 4.126761 1.229745 0.784 0.3854 0.1368
BS4 4.169014 1.055407 0.8523 0.2735 0.1665
BS5 3.887324 1.282289 0.8194 0.3285 0.1328
BS6 3.901408 1.277888 0.8555 0.2682 0.1769
TL1 4.492958 1.05388 0.3411 0.8837 0.017
TL2 4.492958 1.093791 0.2069 0.9572 0.053
TL3 4.605634 0.726614 0.2385 0.9431 -0.0093
TL4 4.929577 1.125344 0.2182 0.9524 0.0182
AG1 4.985915 1.075612 0.0436 0.9981 0.0237
AG2 4.84507 1.090844 0.0366 0.9987 0.0058
AG3 5.140845 0.960592 0.2224 0.9505 0.0588
AG4 4.84507 1.142027 0.0037 1 -0.0196
AG5 4.746479 1.261726 0.4178 0.8254 0.0928
IT1 3.957746 0.885383 0.5811 0.6623 0.1075
IT2 4.15493 1.249547 0.3568 0.8727 0.1121
IT3 3.943662 1.067538 0.5761 0.6681 0.1081
Sumber: Data Primer yang Diolah; 2007

aktivitas perusahaan seperti tingkat kerusakan produk, ketidakhadiran karyawan dan lainnya memiliki nilai tanggapan antara 2 dan 6 dengan nilai standar deviasi sebesar 1.28 dan dengan nilai mean 3.88 yang berarti bahwa rata-rata perusahaan kurang memiliki informasi yang berkaitan dengan non keuangan seperti informasi mengenai tingkat kerusakan produk, ketidakhadiran karyawan dan lainnya. Sedangkan untuk pertanyaan yang keenam yaitu informasi yang berkaitang dengan informasi non keuangan yang berkaitan dengan pasar seperti ukuran atau luas pasar, pangsa pasar dan sebagainya memiliki nilai tanggapan antara 1 dan 6 dengan nilai standar deviasi sebesar 1.27 dan dengan nilai mean sebesar 3.90 yang berarti bahwa masing-masing perusahaan memiliki informasi non keuangan.yang berkaitan dengan pasar seperti ukuran atau luas pangsa pasar yang baik.
2. Informasi Timeliness
Ketepatan informasi (timeliness) mempunyai subdemensi yaitu frekuensi laporan dan kecepatan membuat laporan. Frekuensi diartikan dengan seberapa sering informasi disediakan untuk para manajer, sedangkan kecepatan diartikan sebagai tenggang waktu antara kebutuhan akan informasi dengan tersedianya informasi. Untuk pengukuran variabel ini digunakan empat indikator pertanyaan, dan berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif tabel 1 diatas dapat dijelaskan bahwa untuk indikator pertanyaan pertama yaitu informasi yang diminta oleh perusahaan dapat tersedia dengan segera memiliki nilai tanggapan antara 3 dan 7, nilai standar deviasi sebesar 1.05 dan dengan nilai mean 4.49, hal ini berarti bahwa rata-rata perusahaan secara cepat dapat mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Untuk pertanyaan yang kedua yaitu apakah informasi yang ada dalam sistem informasi yang telah diproses dengan baik memiliki nilai tanggapan antara 3 dan 6 dengan nilai standar deviasi 1.09 dan dengan nilai mean sebesar 4.49 yang berarti bahwa informasi yang tersedia telah diproses dengan baik. Untuk pertanyaan yang ketiga yaitu apakah frekuensi laporan yang diberikan tersedia secara sistematik dan teratur memiliki nilai tanggapan antara 3 dan 6 dengan nilai standar deviasi 0.70 dan dengan nilai mean sebesar 4.48, hal ini berarti bahwa frekuensi laporan yang diberikan tersedia secara sistematik dan teratur. Sedangkan untuk pertanyaan yang keempat yaitu mengenai apakah penyampaian informasi tersedia tepat pada saat informasi tersebut dibutuhkan memiliki nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan standar deviasi sebesar 1.12 dan nilai mean sebesar 4.90 yang berarti bahwa penyampaian informasi kepada perusahaan rata-rata diberikan secara tepat yaitu pada saat informasi tersebut dibutuhkan.
3. Informasi Aggregation
Informasi aggregation merupakan ringkasan informasi menurut fungsi, periode waktu dan model keputusan. Pengukuran variabel ini digunakan dengan menggunakan lima indikator pertanyaan dan berdasarkan analisis statistik deskriptif tabel 1diperoleh gambaran yang dapat dijelaskan sebagai berikut;
Indikator pertanyaan pertama yaitu apakah tersedia informasi yang meliputi berbagai informasi seperti informasi bagian marketing, produksi, penjualan, cost, atau pusat laba memiliki nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 1.07 dan dengan nilai mean sebesar 4.98 yang berarti bahwa rata-rata pada masing-masing perusahaan tersedia informasi yang berkaitan dengan bagian marketing, produksi, penjulan, cost atau puasat laba.. Untuk pertanyaan yang kedua yaitu apakah tersedia informasi yang meliputi berbagai informasi untuk periode waktu tertentu seperti informasi bulanan, kuartal, tahunan, prediksi, perbandingan dan lainnya memiliki nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 1.09 dan dengan nilai mean sebesar 4.84 yang berarti bahwa masing-masing perusahaan telah tersedia dengan baik informasi yang meliputi berbagai informasi untuk periode waktu tertentu seperti informasi bulanan, kuartal, tahunan, prediksi, perbandingan dan lainnya. Untuk pertanyaan yang ketiga yaitu apakah tersedia informasi yang memungkinkan untuk melakukan suatu analisis memiliki nilai tanggapan dari responden antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 0.96 dan dengan nilai mean sebesar 5.14 yang berarti bahwa rata-rata perusahaan memiliki informasi yang baik mengenai informasi yang memungkinkan untuk melakukan suatu analisis. Indikator pertanyaan yang keempat yaitu apakah tersedia format informasi yang memungkinkan untuk membuat model keputusan seperti analisis aliran kas, analisis tambahan cost, analisis persediaan dan analisis kebijakan keuangan memiliki nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 1.14 dan dengan nilai mean sebesar 4.84 yang berarti bahwa masing-masing prusahaan memiliki rata-rata informasi yang baik mengenai ketersediaan format informasi yang memungkinkan untuk membuat model keputusan seperti analisis aliran kas, analisis tambahan cost, analisis persediaan dan analisis kebijakan keuangan manajer diberi kekuasaan dan wewenang yang cukup tinggi untuk pengalokasiaan anggaran perusahaan. Sedangkan untuk tanggapan responden mengenai ketersedia anformat informasi laporan keuangan yang meliputi berbagai informasi seperti neraca, rugi laba dan modal memiliki nilai antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 1.26 dan dengan nilai mean sebesar 4.74 yang berarti bahwa informasi mengenai ketersediaan format informasi laporan keuangan yang meliputi berbagai informasi seperti neraca, rugi laba dan modal dapat diperoleh dengan mudah.
4. Informasi Integration
Informasi integration merupakan informasi yang bermanfaat bagi manajer ketika mereka dihadapkan untuk melakukan decision making yang mungkin akan berpengaruh terhadap sub unit lainnya. Adanya informasi integrasi ini akan mengakibatkan para manajer mempertimbangkan unsur integritas didalam melakukan evaluasi.
Berdasarkan tabel 1 diatas dapat dijelaskan bahwa untuk indikator pertanyaan pertama yaitu ketersediaan informasi untuk satu bagian dimana informasi tersebut akan berpengaruh terhadap bagian lainnya memiliki nilai tanggapan responden antara 3 dan 6, nilai standar deviasi sebesar 0.888 dan dengan nilai mean 3,95, hal ini berarti bahwa rata-rata perusahaan tersedia informasi untuk satu bagian dimana informasi tersebut akan berpengaruh terhadap bagian lainnya. Untuk pertanyaan yang kedua yaitu apakah tersedia informasi mengenai target yang dapat diketahui oleh semua orang diseluruh bagian dalam departemen memiliki nilai tanggapan antara 2 dan 7 dengan nilai standar deviasi 1.24 dan dengan nilai mean sebesar 4.15 yang berarti bahwa informasi untuk satu bagian dimana informasi tersebut akan berpengaruh terhadap bagian lainnya tersedia dengan baik. Untuk pertanyaan yang ketiga yaitu apakah tersedia informasi mengenai akibat dari keputusan yang dibuat terhadap kinerja departemen yang dihasilkan memiliki nilai tanggapan antara 2 dan 6 dengan nilai standar deviasi 1.06 dan dengan nilai mean sebesar 3.94, hal ini berarti bahwa informasi mengenai akibat dari keputusan yang dibuat terhadap kinerja departemen yang dihasilkan belum tersedia dengan baik.
5.3.2 Intensitas Persaingan
Informasi tentang intensitas persaingan memberikan informasi tentang tingkat persaingan usaha yang antar perusahaan yang diukur melalui pesaing utama dalam industri yang sama. Adanya informasi dari tingkat intensitas persaingan akan mengakibatkan para manajer mempertimbangkan unsur ini didalam melakukan evaluasi. Untuk pengukuran variabel ini digunakan lima indikator pertanyaan, dan berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif diperoleh hasil sebagai berikut:
Berdasarkan tabel 2 diatas dijelaskan bahwa untuk item pertanyaan pertama
Jumlah pesaing utama dalam industri yang sama memiliki kondisi persaingan yang tinggi memberikan tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai dengan nilai standar deviasi 1.03 dan dengan nilai mean sebesar 5.25 yang berarti bahwa rata-rata pada masing-masing perusahaan memilik jumlah pesaing yang sangat tinggi Untuk pertanyaan yang kedua yaitu apakah frekuensi tingkat industri yang sama mempunyai kondisi persaingan yang tinggi memiliki nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 1.10 dan dengan nilai mean sebesar 5.01 yang berarti bahwa masing-masing perusahaan memliki frekuensi tingkat persaingan yang dalam industri yang sama.


Tabel 2
Tanggapan Responden Terhadap Variabel Intensitas Persingan
Construct Indicator Mean Stdev Loading Residual Weight
IP
IP1 5.253521 1.038107 0.8533 0.272 0.339
IP2 5.014085 1.101855 0.6021 0.6375 0.1892
IP3 5.295775 1.087518 0.8634 0.2546 0.5253
IP4 5.267606 1.027587 0.6153 0.6214 0.0595
IP5 5.267606 0.984998 0.5375 0.7111 0.1987

Untuk pertanyaan yang ketiga yaitu apakah Frekuensi pengenalan produk baru mempunyai kondisi persaingan yang tinggi, responden memberikan nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 1.08 dan dengan nilai mean sebesar 5.29 yang berarti bahwa masing-masing perusahaan memliki kondisi persaingan yang tinggi terhadap tingkat pengenalan produk baru. Untuk pertanyaan yang ke empat yaitu apakah frekuensi tingkat perubahan teknologi dalam industri yang sama mempunyai kondisi persaingan yang tinggi, responden memberikan nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 1.02 dan dengan nilai mean sebesar 5.26 yang berarti bahwa masing-masing perusahaan memliki kondisi persaingn yang tinggi terhadap tingkat perubahan teknologi dalam industri yang sama. Untuk pertanyaan ke lima aapakah luas akses terhadap saluran distribusi mempunyai kondisi persaingan yang tinggi, responden memberikan nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 0,98 dan dengan nilai mean sebesar 5.26 yang berarti bahwa masing-masing perusahaan memliki luas akses terhadap saluran distribusi yang tinggi.
5.3.3 Teknologi Industri
Untuk mengukur kematangan teknologi informasi digunakan empat kriteria yaitu bentuk perencanaannya, pengendaliannya, organisasinya, dan integrasinya, Untuk pengukuran variabel ini digunakan 12 indikator pertanyaan, dan berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif diperoleh hasil sebagai berikut:
Berdasarkan tabel 3 diatas dijelaskan bahwa untuk item pertanyaan pertama
apakah sasaran dan strategi bisnis perusahaan didukung oleh proyek- proyek dibidang teknologi informasi yang dimiliki oleh perusahaan tanggapan yang diberikan responden antara 3 dan 7 dengan nilai dengan nilai standar deviasi 0.92 dan dengan nilai mean sebesar 3.05 yang berarti bahwa rata-rata sasaran dan strategi bisnis perusahaan didukung oleh proyek-proyek dibidang teknologi informasi yang dimiliki oleh perusahaan memilik Untuk pertanyaan yang kedua yaitu apakah perusahaan senantiasa melakukan telaah terhadap peluang-peluang. yang diberikan oleh tehnologi informasi baru sebagai sarana untuk mencapai keunggulan kompetitif , jawaban responden memiliki nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 0.73 dan dengan nilai mean sebesar 3.0 yang berarti bahwa teknologi informasi baru senantiasa melakukan telaah terhadap peluang-peluang sebagai sarana untuk mencapai keunggulan kompetitf.
Untuk pertanyaan yang ketiga yaitu apakah perusahaan mempunyai informasi yang memadai tentang penggunaan tehnologi informasi oleh kekuatan-kekuatan kompetitif dilingkungan indistri perusahaan kami,misalnya pelanggan, pemasok dan pesaing, responden memberikan nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai standar
Tabel 3
Tanggapan Responden Terhadap Variabel Teknologi Industri
Construct Indicator Mean Stdev Loading Residual Weight
TI
TI1 3.056338 0.92408 0.305 0.907 0.2286
TI2 3 0.736788 0.2271 0.9484 0.1949
TI3 2.84507 0.839181 -0.2197 0.9517 -0.3203
TI4 2.915493 0.751123 0.1905 0.9637 -0.035
TI5 2.859155 0.742501 -0.0677 0.9954 -0.0465
TI6 3.084507 0.712069 -0.3174 0.8993 -0.3948
TI7 2.971831 0.774077 0.3108 0.9034 0.1211
TI8 3.211268 0.809153 0.6092 0.6289 0.4077
TI9 2.943662 0.694619 -0.3992 0.8406 -0.3318

deviasi.0.83 dan dengan nilai mean sebesar 2.84 yang berarti bahwa perusahaan mempunyai informasi yang memadai tenang penggunaan teknologi informasi oleh kekuatan-kekautan kompetitif dilingkungan industri.. Untuk pertanyaan yang ke empat yaitu perusahaan memiliki gambaran yang memadai mengenai cakupan serta kualitas sistrm-sistem tehnologi informasi yang dimiliki perusahaan, responden memberikan nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 0.75 dan dengan nilai mean sebesar 2.91 yang berarti bahwa perusahaan memiliki informasi yang cukup tinggi mengenai serta kualitas sistrm-sistem tehnologi informasi dimiliki. Untuk pertanyaan yang ke lima yaitu apakah pada perusahaan kami, pertanggungjawaban dan otoritas mengenai arah dan pengembangan teknologi informasi secara jelas diungkapkan, responden memberikan nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 0.74 dan dengan nilai mean sebesar 2.84 yang berarti bahwa perusahaan memiliki informasi yang cukup tinggi mengenai pengembangan tehnologi informasi dimiliki. Untuk pertanyaan ke enam apakah merasa puas terhadap perancangaan proyek-peroyek teknologi informasi kami yang diprioritaskan , responden memberikan nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 0.71 dan dengan nilai mean sebesar 3.01 yang berarti perusahaan memberikan informasi yang penting terhadap perancangan proyek-proyek teknomlogi informasi diprioritaskan.. Untuk pertanyaan yang ke tujuh yaitu apakah perusahaan secara konstan melakukan monitoring terhadap kinerja dan fungsi tehnologi informasi, responden memberikan nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 0.77 dan dengan nilai mean sebesar 2.97 yang berarti bahwa perusahaan memiliki informasi yang cukup tinggi monitoring terhadap kinerja dan fungsi teknologi informasi. Untuk pertanyaan ke delapan apakah pada perusahaan kami terdapat proses perencanaan top down untuk mengaitkan antara strategi sistim informasi dengan kebutuhan-kebutuhan bisnis responden memberikan nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 0.71 dan dengan nilai mean sebesar 3.01 yang berarti perusahaan memberikan informasi yang penting terhadap proses perencanaan top down untuk Untuk pertanyaan ke sembilan apakah pada perusahaan kami, pengenalan atau percobaan teknologi baru yang ada dalam setiap tingkatan unut bisnis selalu dilakukan pengawasan responden memberikan nilai tanggapan antara 3 dan 7 dengan nilai standar deviasi 0.71 dan dengan nilai mean sebesar 3.01 yang berarti perusahaan memberikan informasi yang penting terhadap pengenalan atau percobaan teknologi baru yang ada dalam setiap tingkatan unut bisnisselalu dilakukan pengawasan .
4 Pengujian Outer Model (Measurement Model )
Outer Model atau Measurement Model adalah penilaian terhadap reliabilitas dan validitas variabel penelitian. Ada tiga kriteria untuk menilai outer model yaitu: convergent validity, discriminant validity dan composite reliability. Outer model dinilai dengan cara melihat nilai convergent validity (besarnya loading factor untuk masing-masing konstruk) Loading factor di atas 0.70 sangat direkomendasikan, namun demikian loading factor 0.50 – 0.60 masih dapat ditolerir sepanjang model masih dalam tahap pengembangan. Discriminant validity dari pengukuran model dengan indikator refleksif dapat dilihat dari korelasi antar skor indikator dengan skor konstruknya. Indikator akan dianggap relaible apabila nilai korelasinya diatas 0.70 (Ghozali,2006). Hasil pengujian outer loadings (lihat lampiran ) menunjukkan bahwa semua loading factor diatas 0.50.
Cara lain untuk menilai discriminat validity dilakukan dengan cara membandingkan square root of average variance extracted (AVE) untuk setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model. Model mempunyai discriminant validity yang tinggi jika akar AVE untuk setiap konstruk lebih besar dari korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya (Ghozali,2006).
Tabel 4 menunjukkan korelasi dari latent variables dan nilai akar AVE. Hasil korelasi antar konstruk dan nilai akar AVE menunjukkan bahwa nilai akar AVE untuk variabel Intesitas persaingan (IP), Teknologi informasi (TI), SAM dan kinerja lebih besar dari nilai korelasi antar konstruknya.
Tabel 4
Akar AVE dan Korelasi Konstruk
- IP TI SAM
IP
TI 0.558
SAM 0.385 0.572
KM 0.199 0.468 0.446
Secara umum hasil ini menunjukkan bahwa discriminant validity yang tinggi. Pengujian discriminant validity juga dapat ditunjukkan dengan nilai composite reliabilitynya
Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai composite reliability variabel penelitian semuanya diatas 0.70. Dengan demikian dapat disimpulkan semua konstruk mempunyai reliabilitas dan validitas yang tinggi.
Tabel 5 Hasil Uji Reliabilitas

Construct Composite AVE Cronbach
Reliability Alpha
IP 0.828396 0.500701 0.767882
TI 0.076539 0.102109 0.779593
SAM 0.842858 0.300805 0.853243
KM 0.922468 0.583434 0.902673










Pengujian Inner Model (Model Struktural)
Pengujian inner model atau model struktural dilakukan untuk melihat hubungan antara konstruk, nilai signifikansi dan R-square dari model penelitian. Tabel 6 menunjukkan hasil pengujian inner model.
Tabel 6
Hasil Pengujian Inner Model

Entire Mean of Standard T-Statistic R Square
Keterangan Sample subsamples error
estimate
IP->SAM 0.332 -0.3683 0.1116 2.9754 0.3114
TI->SAM 0.489 0.4874 0.1139 4.2924 0.3337
IP ->KM 0.110 0.113 0.028 0.255 0.3351

TI->KM 0.225 0.334 0.0357 3.457 0.4251
SAM->KM 0.423 0.4951 0.0893 4.7374 0.2758
Berdasarkan tabel 6 dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel intensitas persaingan pasar dengan penggunaan informasi SAM dengan nilai koefisien 0.332, nilai t = 2.975 dan t Tabel = 1.96 signifikan pada 0.05. hal ini menunjukkan bahwa Intensitas persaingan berpengaruh signifikan terhadap karakteristik SAM . dengan demikian hipotesis 1 dapat diterima. Hasil penelitian mendukung penelitian yang dilakukan Mia dan Clark (1999) Untuk hubungan penggunaan informasi SAM terhadap kinerja diperoleh nilai koefisien 0.423 dengan nilai t = 4.73.. Dengan demikian dapat simpulkan bahwa hipotesis 1 yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara intensitas persaingan pasar terhadap kinerja melalui penggunaan informasi SAM berhasil didukung. Hasil pengujian hipotesis 1 konsisten dengan temuan Mia dan Clarke (1999).
Untuk hubungan TI terhadap SAM diperoleh nilai koefesien 0.489 dan nilai t = 4.292 dan t Tabel sebesar 1,96. Dari uji t menunjukkan nilai t hitung > t tabel berarti bahwa pengaruh langsung TI terhadap SAM berpengaruh signifikan. Dengan demikian hipotesis 2 yang menyatakan bahwa TI berpengaruh terhadap kinerja melalui karakteristik SAM signifikan dapat diterima. Penelitian ini merupakan pengembangan penelitian yang dilakukan oleh Karimi et al. (2001) dan Boynton et al. (1994).
Hasil pengujian ini konsisten dengan penelitian Abernethy dan Guthrie (1994) Hasil penelitian ini melengkapi penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya (Mia dan Goyal 1991; Boynton et al. 1994; Bouwens dan Abernethy 2000 Karimi et al. 2001).
6. Pembahasan
Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa semakin tinggi aplikasi TI akan semakin meningkatkan kemampuan suatu sistem untuk menyajikan informasi sesuai dengan kebutuhan manajer dalam pengambilan keputusan. TI, yang merupakan perpaduan antara teknologi komputer dengan teknologi jaringan memungkinkan manajer untuk memperoleh tidak hanya informasi internal, tetapi juga informasi eksternal, non keuangan, dan berorientasi yang akan datang. Dengan demikian, semakin meningkatnya penerapan TI, semakin meningkat pula ketersediaan informasi SAM lingkup luas. Ini akan memberikan semakin banyak alternatif solusi yang dapat dipertimbangkan oleh manajer dalam pengambilan keputusan sehingga kinerja manajerial dapat ditingkatkan. Jika kita amati perkembangan TI dewasa ini, TI menunjukkan perkembangan yang demikian cepat, antara lain: Electronic data interchange (EDI), Wide area network (WAN), dan Expert System (ES) yang semuanya menggunakan komputer (O’Brien 1999: 423). Munculnya TI berbasis komputer memudahkan orang melakukan aktivitas dalam mengakses informasi di mana saja dan kapan saja. TI mampu mengintegrasikan, mengkomunikasikan, mempertukarkan berbagai aktivitas bisnis penting yang terdistribusi secara geografis. Disamping itu, TI mampu menembus birokrasi yang diakibatkan karena adanya struktur organisasi sehingga batas antar fungsi dalam organisasi menjadi mudah diterobos dalam upaya peningkatan kelancaran kerjasama antar fungsi. Lebih lanjut dapat kita contohkan misalnya dengan adanya expert system setiap orang dapat melakukan pekerjaan dari seorang yang ahli. Ketersediaan komputer personal (PC) yang didukung dengan berbagai macam perangkat lunak yang mudah pengoperasiannya memungkinkan manajer melakukan lebih banyak analisis dan mengurangi ketergantungannya pada ahli atau pada departemen sistem informasi. Jika sebuah PC juga bertindak sebagai suatu terminal dan dihubungkan ke database organisasi, maka manajer dapat mengakses informasi dengan cepat dan menyiapkan lebih banyak laporannya. Remy Prud’homme (1991) menyatakan bahwa peningkatan pentingnya informasi dan kemudahan perolehan informasi yang diakibatkan oleh TI akan memberikan kemudahan bagi manajer untuk beroperasi dari lokasi mana pun dan memperoleh banyak informasi sesuai dengan kebutuhannya. Jadi semakin tinggi ketersediaan TI di perusahaan akan sangat membantu tugas yang dihadapi manajer, Teknologi perangkat lunak yang tersedia juga semakin bervariasi, demikian juga kemampuan untuk menyimpan data semakin besar, sehingga memungkinkan penyediaan informasi dalam bentuk tertentu yang akan memberikan manajer tambahan informasi yang akan bermanfaat dalam pengambilan keputusan. Kemungkinan solusi terhadap suatu masalah juga semakin banyak, yang memungkinkan manajer produksi atau pemasaran untuk meningkatkan kualitas keputusan yang akan diambil.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji apakah terdapat pengaruh tidak langsung dari penggunaan informasi sistem akuntansi manajemen (SAM) terhadap hubungan antara intensitas persaingan pasar, teknologi informasi dengan kinerja. Untuk menguji hipotesis yang diajukan, dalam penelitian ini digunakan partial least square untuk menguji data yang dikumpulkan dari 71 orang manajer pemasaran dan manajer produksi dari perusahaan-perusahaan manufaktur di Jawa Tengah. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa terdapat pengaruh tidak langsung variabel penggunaan informasi sistem akuntansi manajemen (SAM) terhadap hubungan antara intensitas persaingan pasar dengan kinerja.
Hasil pengujian dengan menggunakan SEM menunjukkan bahwa karakteristik
SAM scope bertindak sebagai variabel antara (intervening variable) dalam hubungan antara (1) teknologi informasi dan kinerja manajerial, (2) intensitas persaingan dan kinerja manajerial.. Dengan demikian, semakin tinggi teknologi informasi dan intensitas persaingan akan semakin meningkatkan kebutuhan akan informasi SAM , yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja manajerial. Hasil penelitian ini melengkapi penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya (Mia dan Goyal 1991; Boynton et al. 1994; Bouwens dan Abernethy 2000 Karimi et al. 2001). Namun demikian penelitian ini hanya dilakukan pada perusahaan manufaktur, penelitian selanjutnya dapat mencoba pada jenis usaha yang lain, industri jasa ataupun sektor publik. Seperti dinyatakan oleh Mia dan Goyal (1991) bahwa dalam situasi yang kompetitif, aplikasi SAM oleh industri jasa ataupun sektor publik, bias berbeda dengan perusahaan manufaktur.Seperti misalnya, struktur biaya perusahaan jasa berbeda dengan perusahaan industri manufaktur, aplikasi SAM untuk pengambilan keputusan pada perusahaan jasa mungkin berbeda dari perusahaan industri manufaktur. Disamping itu Instrumen TI masih relatif baru sehingga masih perlu perbaikan. Oleh karenanya penelitian selanjutnya dapat mencoba mengembangkan instrumen TI yang baru.
2. Keterbatasan Penelitian
Beberapa keterbatasan penelitian ini seperti tingkat pengembalian kuesioner yang rendah sehingga jumlah responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini hanya 71 orang, dengan demikian hasil ini belum dapat digeneralisasi. Kedua, kelemahan dalam metode survei. Kemungkinan adanya bias antara responden yang dikirimi kuesioner dengan responden yang mengisi/mengembalikan kuesioner.
3. Saran
Saran untuk penelitian berikutnya adalah :
1. Melakukan teknik pengumpulan data tambahan seperti wawancara, contact person dengan pihak perusahaan dengan tujuan memperbanyak jumlah responden, melakukan pilot study untuk menjamin bahwa item-item pertanyaan dalam kuesioner dapat dipahami dengan baik oleh responden
2. Menambah variabel-variabel kontekstual lain yang diduga mempunyai korelasi dengan penggunaan informasi sistem akuntansi manajemen (SAM) seperti saling ketergantungan, gaya kepemimpinan, ukuran organisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Ashford, S.J, Cummings, L.L, 1983, “Feedback as an Individual Resources: Personal strategies of Creating Information”. Organizational Behaviour and Human Performance 32, 370-398.
Barney, J.B. dan E. J. Zajac, 1994., “Competitive Organizational Behavior: Toward an Organizationally-Based Theory of Competitive Advantage”. Strategic Management Journal, Winter Special Issue, 15, hal, 5-9.
Bourne, L. E. Jr., 1966, Comments on Professor I.M. Bilodeau’s Paper, in bilodeau E. A. (ed). Acquisition of Skill, N.Y. academic Press.
Bromwich, M., 1990, “The Case for Strategic Management Accounting Sistem : The Role of Accounting Information for Strategy in Competitive Markets”, Accounting, Organization and Society, 15, 27-46.
Chenhall, R., Morris, D, 1986, “The Impact of Structure, Environment and Interdependece on The Perceived Usefulness of Management Accounting Sistem”. The Accounting Review LXI (1), 16-35.
Day, G. S., 1991. “Learning About Markets”. Report No. 91-117. Cambridge, Marketing Science Institute. and Wensley, R., 1988., “Assesing Advantage: a Framework Diagnosing Competitive Superiority”, Journal of Marketing, 1-20.
DeGeus, A. P., 1970., “Planning as Learning”, Harvard Business Review, 70-74.
David Otley, 1980., “The contigency theory of management accounting: Achievement and Prognosis”, Accounting Orgaizations and Society, vol. 5, pp. 413-428.
Dharmmesta, B.S, 1999, “Riset Konsumen dalam Pengembangan Teori Perilaku Konsumen dan Masa Depan”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, vol. VI. No.1.
Drucker, P. F. 1996, “The Executive in Action”: Managing for Results. Innovation and Enterpreneurship, The Effective. New York.
Fiol, C.M, 1991, “Managing Culture as Acompetitive Resource”. Journal of management, 17, hal. 191-211.
Foster, G. and Gupta, M, 1994., “Marketing, cost management and management accounting”, Journal of Management Accounting Research, 43–77.
Mia ,L and Clarke, 1999, “Market Competition, Use of Information Management Accunting Sistem, Performance Unit Business”. Management Accounting Research, P. 137-158
Pogue, G.A., 1990, “Strategic Management Accounting and Marketing Strategy”, Management Accounting, 68, 52-54.
Porter, M. E, 1979, “How Competitive Forces Shape Strategy”, Harvard Business Review, March/April, 137-145. , 1985, “Competitive Strategy”. Free Press, New York.
Rolfe, A. J., 1992, “Profitability Exporting Techniques Bridge Information Gap”, The Journal Of Business Strategy, 32-37. Senge, P.M., 1990, “The Leader’s New York : Building Learning Organizations”, Sloan Management Review, 7-23.
Sekaran, Uma., 2000, “Research Methods for Business”, John Wisley, p. 295-296.
Simmonds, K., 1981. “Strategic Management Accounting”, Management Acounting, UK, 26-29.
Simons, R. 1987. “Accounting Control Sistem And Business Strategy”: An Empirical Analysis: Accounting Oganization And Society, 12(4), Hal. 357-374.,
R., 1990. The Role of Management Control Sistem in Creating Competitive Advantage: New Persfectives, Accounting, Organizations And Society, 15, 127-143.
Spicer, B.H., 1992, “The Resurgence of Cost and Management Accounting : A Review of Some Recent Developments in Practice, Theories and Case Research Methods”, Management Accounting Research, 1-37.
Stephen, N. dan Kevin, P.G, 1998, “Why don’t Some People Complain A Cognitive – Emotion Process Model of Consumer Complaint Behavior”, Journal of Academy of Marketing Science, vol 26. no,3.
Tyndall, G.R, 1988, “Obtaining Better Information to Control Freight Costs : Some guidelines”, Journal of Cost Management, 55-59.
Ward, K., 1993, “Accounting For a Sustainable Competitive Advantage”, Management Accounting, 71, 36.
Ward, K., Hewson, W. And Srikanthan, S, 1992. “Accounting For The Competition”, Management Accounting, 70, 19-20.
Waterhouse and Tiessen, 1978, “A Contigency Framework For Management Accounting Sistems Research”, Management Accounting Sistems Research, 65-76.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar